PAMEKASAN,korantimes.com-Jalan Akhmad Safii di dunia jurnalistik tidak berlangsung dalam waktu singkat. Profesi wartawan membawanya pada berbagai peristiwa, bertemu beragam karakter, sekaligus memperkenalkannya pada dinamika kehidupan masyarakat Pamekasan.

Dari pekerjaan jurnalistik itulah Safii membangun pengalamannya. Ia menjalani profesi tersebut dengan rutinitas yang menjadi keseharian wartawan, untuk kemudian menyajikannya informasi kepada publik.

Bagi Safii, menjadi wartawan bukan sekadar pekerjaan menulis berita. Ada tanggung jawab publik yang melekat di dalamnya. Informasi yang ditulis seorang wartawan dapat memengaruhi cara masyarakat melihat sebuah persoalan.

“Jurnalistik bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga bagaimana informasi itu diperoleh, diverifikasi, kemudian disampaikan kepada publik secara berimbang dan bertanggung jawab,” terangnya.

Perjalanan panjang membuat Safii melihat dunia pers Pamekasan terus berubah dan dinamis. Pertumbuhan media, terutama media daring, membuat arus informasi bergerak semakin cepat. Di sisi lain, kecepatan tersebut membawa tantangan baru bagi wartawan.

Menurut dia, wartawan tidak boleh sekadar berlomba menjadi yang pertama dalam memberitakan sebuah peristiwa. Akurasi dan verifikasi tetap menjadi fondasi utama.

“Di tengah derasnya informasi dan media sosial, wartawan justru harus semakin kuat dalam melakukan verifikasi. Jangan sampai kecepatan mengalahkan ketepatan. Wartawan harus tetap berpijak pada fakta dan kode etik jurnalistik,” ujarnya.

Dinamika itulah yang kemudian menjadi salah satu latar munculnya gagasan membentuk Jurnalis Independen Pamekasan atau (JIP). Organisasi yang baru dibentuk dan dalam deklarasinya, Akhmad Safii dipercaya menjadi ketua.

READ  Barenbliss Hadirkan Pesona Mewah pada bibir dengan Koleksi 'Aura Mood': Crush at First Swipe, Tahan Lama Hingga 36 Jam!

Bagi Safii, lahirnya JIP merupakan bagian dari dinamika kehidupan pers di Pamekasan. Kehadiran organisasi baru, menurut dia, tidak harus dipandang sebagai persaingan dengan organisasi wartawan yang lebih dulu ada.

“Kami hadir bukan untuk menegasikan organisasi yang sudah ada. Justru kami ingin menjadi bagian dari ekosistem pers di Pamekasan. Perbedaan wadah organisasi adalah hal yang wajar, selama orientasinya tetap pada kepentingan publik dan kemajuan dunia jurnalistik,” sambungnya.

Ia ingin JIP menjadi wadah bagi para jurnalis untuk saling belajar dan meningkatkan kemampuan. Organisasi itu, kata dia, tidak hanya menjadi tempat perkumpulan, melainkan memiliki program dan kontribusi yang dapat dirasakan anggotanya maupun masyarakat.

“Kami ingin JIP menjadi rumah bersama bagi jurnalis yang ingin terus belajar dan berkembang. Ukuran keberhasilan organisasi bukan seberapa besar organisasinya, tetapi seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada anggota dan masyarakat,” ucapnya.