OPINI-Ramadan adalah bulan istimewa, bahkan bagi masyarakat Madura bukan sekadar momentum ibadah ritual, tetapi sebuah peristiwa budaya yang menyatukan dimensi spiritual, sosial, dan tradisi lokal. Di desa-desa di Madura, datangnya Ramadan terasa seperti kedatangan tamu agung yang disambut dengan penuh hormat. Sejak malam pertama, langgar dan masjid menjadi pusat kehidupan kampung. Anak-anak berlarian membawa sarung, para orang tua berjalan perlahan menuju surau, sementara suara tadarus Al-Qur’an mengalun dari pengeras suara hingga larut malam.
Hakikat Ramadan bagi masyarakat kampung Madura terletak pada kesederhanaan yang sarat makna. Buka puasa tidak selalu dihidangkan dengan makanan mewah, tetapi cukup dengan hidangan sederhana seperti kolak, tajin, atau kue tradisional yang dibuat bersama di dapur rumah. Namun dari kesederhanaan itulah lahir rasa syukur dan kebersamaan yang kuat. Ramadan menjadi ruang untuk mempererat tali silaturahmi, saling berbagi makanan, serta menguatkan solidaritas sosial antarwarga.
Di banyak tempat di Madura, tradisi seperti berbagi hidangan kepada tetangga atau membawa makanan ke masjid menjelang berbuka menjadi simbol hidupnya nilai gotong royong. Ramadan tidak hanya mengajarkan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mendidik masyarakat untuk menahan diri dari keserakahan dan egoisme.
Bagi masyarakat kampung di Madura, Ramadan adalah sekolah kehidupan. Ia mengajarkan kesalehan yang membumi—kesalehan yang tidak hanya tampak dalam ibadah personal, tetapi juga dalam kepedulian sosial, kesederhanaan hidup, dan keharmonisan hidup bersama. Di situlah Ramadan menemukan hakikatnya yang paling otentik
Kearifan Lokal dan Ruang Silaturrahim
Salah satu tradisi Ramadan yang masih hidup dan terus dijaga adalah ter-ater. Tradisi ini merupakan kebiasaan saling mengantar makanan kepada keluarga, tetangga, maupun kerabat dekat, terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Dalam praktiknya, ter-ater bukan sekadar kegiatan berbagi hidangan, melainkan juga simbol keakraban dan solidaritas sosial yang mengakar kuat dalam budaya Madura.
Menjelang waktu berbuka, suasana kampung di Madura terasa lebih hidup. Orang-orang berjalan membawa rantang, piring, atau nampan berisi aneka makanan seperti kolak, kue tradisional, nasi, hingga lauk-pauk sederhana. Anak-anak hingga orang tua turut terlibat dalam aktivitas ini. Mereka mengetuk pintu rumah tetangga, menyerahkan makanan dengan senyum, lalu pulang dengan balasan hidangan yang tak jarang berbeda jenis. Dari rumah ke rumah, tradisi ini mengalir seperti bahasa sosial yang penuh kehangatan.
Pada sepuluh hari terakhir Ramadan, intensitas ter-ater biasanya semakin terasa. Masa yang diyakini sebagai waktu paling mulia dalam Ramadan ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk memperkuat silaturrahim. Di tengah kesibukan beribadah—mulai dari tadarus, tarawih, hingga i’tikaf—masyarakat Madura tetap menjaga ikatan sosial melalui tradisi ini. Makanan yang diantar sering kali sederhana, namun nilai kebersamaan yang terkandung di dalamnya jauh lebih bermakna.
Ter-ater pada akhirnya bukan sekadar tradisi kuliner, melainkan cermin filosofi hidup masyarakat Madura yang menjunjung tinggi persaudaraan. Dalam dunia yang semakin individualistik, tradisi ini menghadirkan pelajaran penting bahwa Ramadan tidak hanya memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga merawat hubungan antarsesama manusia. Di sinilah Ramadan menemukan makna sosialnya: menghadirkan keguyuban, mempererat silaturrahim, dan menjaga kehangatan kampung agar tetap hidup dari generasi ke generasi.
Relasi Tradisi dan Ibdah
Ter-ater memperlihatkan bagaimana kearifan lokal dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai spiritual dalam Islam. Dari dapur-dapur sederhana di kampung, berbagai makanan diantar dengan penuh ketulusan. Tidak ada ukuran kemewahan dalam hidangan yang dibawa; yang utama adalah niat untuk berbagi dan mempererat silaturahim. Dalam proses itu, batas-batas sosial seakan mencair. Tetangga menjadi lebih dekat, hubungan keluarga semakin hangat, dan rasa kebersamaan tumbuh dengan alami.
Di balik tradisi ini tersimpan makna ibadah yang mendalam. Berbagi makanan saat Ramadan merupakan bentuk sedekah yang sederhana namun sarat nilai. Ia menjadi pengingat bahwa puasa bukan hanya latihan menahan diri, tetapi juga upaya menumbuhkan empati terhadap sesama. Ter-ater pada akhirnya menjembatani tradisi dan spiritualitas—bahwa kearifan lokal dapat menjadi jalan menuju penguatan nilai ibadah.
Dengan demikian, ter-ater tidak hanya menjaga warisan budaya Madura, tetapi juga meneguhkan Ramadan sebagai ruang berbagi, ruang persaudaraan, dan ruang untuk memanusiakan manusia melalui ketulusan memberi.
Ke depan, ter-ater justru perlu dirawat dan dilanjutkan sebagai warisan kearifan lokal yang sarat makna khususnya oleh para Generasi Muda. Ter-ater bukan sekadar kegiatan mengantar makanan, melainkan simbol kepedulian, silaturahim, dan semangat berbagi yang tumbuh dari nilai-nilai kebersamaan masyarakat. Dalam tradisi ini, generasi muda belajar bahwa kehidupan sosial tidak dibangun oleh sikap individualistis, melainkan oleh rasa empati dan saling memperhatikan. Karena itu, keberanian generasi muda untuk melanjutkan ter-ater menjadi penting, bukan hanya untuk menjaga tradisi tetap hidup, tetapi juga untuk merawat nilai kemanusiaan yang terkandung di dalamnya. Wallahu A’lam Bisshowab.
Ahmad Wiyono; Penggerak Kaula Muda NU Madura
Tulisan opini ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak termasuk tanggung jawab redaksi Koran Times.
Rubrik opini di koran Times terbuka untuk umum. Panjang tulisan maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
Harap sertakan riwayat hidup singkat, foto diri, dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Kirimkan tulisan ke email: timeskoran@gmail.com
