OPINI-Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dalam dunia pendidikan, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia mulai mengaktifkan kembali kebiasaan menulis tangan bagi siswa di sekolah. Kebijakan ini dimaksudkan untuk memperkuat keterampilan motorik, meningkatkan kemampuan berpikir, serta menjaga kualitas proses belajar yang mulai tergerus oleh ketergantungan pada teknologi digital dan kecerdasan buatan.

Dalam satu dekade terakhir, pendidikan global mengalami transformasi besar akibat kemajuan teknologi. Penggunaan komputer, tablet, dan berbagai aplikasi pembelajaran daring semakin mendominasi ruang kelas. Di satu sisi, teknologi memberikan kemudahan akses informasi dan mempercepat proses pembelajaran. Namun di sisi lain, kemunculan berbagai perangkat berbasis Artificial Intelligence juga memunculkan kekhawatiran baru, terutama terkait menurunnya kemampuan berpikir mendalam pada siswa.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi perhatian di berbagai negara. Penelitian yang dilakukan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development dalam laporan Education at a Glance menunjukkan bahwa siswa di banyak negara semakin bergantung pada perangkat digital dalam proses belajar. Bahkan beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan teknologi yang berlebihan dapat mengurangi kemampuan konsentrasi dan daya ingat jangka panjang.

Dalam konteks ini, kebiasaan menulis tangan kembali dipandang sebagai keterampilan penting yang perlu dipertahankan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa menulis tangan memiliki dampak positif terhadap perkembangan kognitif siswa. Studi yang dilakukan oleh peneliti dari Princeton University dan University of California, Los Angeles menemukan bahwa mahasiswa yang mencatat pelajaran dengan tangan memiliki tingkat pemahaman konseptual yang lebih baik dibandingkan mereka yang mencatat menggunakan laptop. Menulis secara manual memaksa otak untuk memproses informasi secara lebih selektif dan reflektif, sehingga membantu meningkatkan pemahaman materi.

Proses menulis tangan juga melibatkan koordinasi kompleks antara sistem saraf, otot, dan aktivitas otak. Ketika siswa menulis, otak tidak hanya merekam informasi, tetapi juga mengorganisasi ide, membangun struktur kalimat, dan menghubungkan konsep-konsep yang dipelajari. Aktivitas ini melatih kemampuan berpikir analitis sekaligus memperkuat memori. Sebaliknya, ketika siswa hanya mengetik atau menyalin teks secara cepat, proses kognitif yang terjadi sering kali lebih dangkal.

READ  Rajin Ibadah, Tapi Krisis Empati: Di Mana Tasawuf Kita Hari Ini?

Selain manfaat kognitif, menulis tangan juga memiliki nilai pedagogis yang berkaitan dengan pembentukan karakter belajar. Proses menulis secara manual membutuhkan ketelitian, kesabaran, serta konsentrasi yang lebih tinggi. Nilai-nilai ini penting dalam membangun budaya akademik yang serius dan disiplin, terutama di tengah budaya instan yang berkembang dalam era digital.

Menariknya, kebijakan untuk menghidupkan kembali kebiasaan menulis tangan juga mengingatkan pada tradisi pendidikan masa lalu di Indonesia. Pada dekade 1970-an hingga 1990-an, banyak sekolah dasar rutin menyelenggarakan lomba menulis halus. Kompetisi ini tidak sekadar menilai keindahan tulisan, tetapi juga melatih keteraturan berpikir, ketelitian, dan kedisiplinan siswa.

Pada masa itu, siswa biasanya menggunakan buku tulis khusus dengan garis-garis panduan untuk membentuk huruf secara rapi dan proporsional. Guru sering memberikan perhatian khusus terhadap kerapian tulisan siswa, karena tulisan yang baik dianggap mencerminkan cara berpikir yang terstruktur. Tradisi ini secara tidak langsung membangun budaya literasi yang kuat, di mana siswa terbiasa menuliskan gagasan mereka secara perlahan dan terorganisasi.

Namun seiring dengan perkembangan teknologi, kebiasaan tersebut mulai memudar. Generasi siswa saat ini lebih akrab dengan layar gawai dibandingkan dengan buku tulis. Banyak tugas sekolah yang kini diselesaikan melalui perangkat digital, sementara aktivitas menulis tangan semakin jarang dilakukan. Bahkan dalam beberapa kasus, muncul kekhawatiran bahwa penggunaan teknologi berbasis AI dapat mendorong siswa untuk mengandalkan mesin dalam menyusun teks tanpa melalui proses berpikir yang mendalam.

Kondisi ini menimbulkan tantangan serius bagi dunia pendidikan. Jika ketergantungan terhadap teknologi tidak diimbangi dengan penguatan keterampilan dasar, maka kemampuan literasi generasi muda berpotensi mengalami penurunan. Data dari UNESCO menunjukkan bahwa kualitas literasi membaca dan menulis masih menjadi tantangan di banyak negara, termasuk di kawasan Asia.

READ  "Kado MBG" dari Tiyo untuk Pemerintahan Prabowo

Karena itu, upaya untuk menghidupkan kembali kebiasaan menulis tangan dapat dipandang sebagai langkah strategis dalam menjaga keseimbangan antara teknologi dan kemampuan dasar manusia. Pendidikan modern memang tidak dapat dilepaskan dari kemajuan teknologi. Namun teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia.

Dalam perspektif pedagogi, menulis tangan dapat menjadi sarana untuk memperkuat proses belajar yang lebih reflektif. Ketika siswa menuliskan ide mereka secara manual, mereka secara tidak langsung dilatih untuk menyusun argumen, merangkai kalimat, dan mengembangkan gagasan secara sistematis. Proses ini merupakan fondasi penting bagi perkembangan kemampuan berpikir kritis.

Di tengah era kecerdasan buatan, justru kemampuan manusia untuk berpikir kreatif, reflektif, dan analitis menjadi semakin penting. Teknologi mungkin mampu menghasilkan teks dalam hitungan detik, tetapi proses berpikir yang mendalam tetap menjadi keunggulan manusia yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin.

Oleh karena itu, menghidupkan kembali tradisi menulis tangan bukanlah langkah mundur dalam dunia pendidikan. Sebaliknya, ia merupakan strategi untuk memastikan bahwa generasi muda tetap memiliki fondasi intelektual yang kuat di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat. Pendidikan masa depan tidak hanya membutuhkan generasi yang mahir menggunakan teknologi, tetapi juga generasi yang mampu berpikir secara mendalam, kreatif, dan bertanggung jawab.

Penulis:Prof. Dr. Hj. Titik Triwulan Tutik, S.H., M.H Guru Besar Ilmu Hukum Tata Negara FSH UINSA Surabaya. 

Tulisan opini ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak termasuk tanggung jawab redaksi Koran Times.

Rubrik opini di koran Times terbuka untuk umum. Panjang tulisan maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.

Harap sertakan riwayat hidup singkat, foto diri, dan nomor telepon yang bisa dihubungi.