JAKARTA,korantimes.com-Di tengah sulitnya persaingan kerja bagi generasi muda Indonesia, tiga talenta Indonesia yang menempuh pendidikan tinggi di Melbourne mendapat kesempatan langka: memulai karier profesional mereka di salah satu industri yang diprediksi paling menentukan masa depan ekonomi dunia, Artificial Intelligence.
Mereka adalah Bernard Choa, Cherish Valerie Sukmana, dan Darryl Hilmy.
Setelah menempuh pendidikan tinggi di Melbourne, Australia, ketiganya kini dipilih pengusaha Indonesia-Australia Wempy Dyocta Koto untuk bergabung sebagai Artificial Intelligence Specialist dalam Wempy Dyocta Koto Artificial Intelligence Team.
Bagi ketiganya, ini bukan sekadar pekerjaan pertama atau langkah berikutnya dalam sebuah CV.
Ini adalah kesempatan untuk memasuki industri AI pada sebuah titik bersejarah, ketika teknologi tersebut sedang mengubah cara manusia bekerja, belajar, berbisnis, berkomunikasi, dan menciptakan perusahaan.
Dan bagi Wempy, perekrutan tersebut merupakan sebuah eksperimen yang lebih besar:
Bisakah talenta muda Indonesia yang mendapatkan pendidikan internasional diberi kesempatan untuk ikut membangun bisnis masa depan Indonesia?
Dari Kampus Melbourne Menuju Revolusi AI
Setiap tahun, ribuan anak muda Indonesia berangkat ke luar negeri untuk mendapatkan pendidikan internasional.
Mereka belajar di universitas global, hidup dalam lingkungan multikultural, membangun kemampuan bahasa, memahami standar profesional internasional, dan melihat bagaimana ekonomi maju mengembangkan teknologi dan bisnis.
Namun pertanyaan penting muncul setelah wisuda:
Apa yang terjadi dengan seluruh pengetahuan dan pengalaman tersebut?
Wempy ingin sebagian jawabannya adalah: dibawa kembali untuk menciptakan sesuatu.
“Indonesia mengirim banyak anak muda berbakat untuk mendapatkan pendidikan terbaik di luar negeri,” ujar Wempy.
“Setelah mereka belajar di Melbourne, Sydney, London, Singapore, Amerika atau tempat lainnya, tantangan kita bukan hanya bagaimana mereka mendapatkan pekerjaan. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana kita memberikan mereka kesempatan untuk menggunakan pendidikan tersebut untuk menciptakan pekerjaan, perusahaan dan industri masa depan.”
Itulah filosofi di balik perekrutan Bernard, Cherish, dan Darryl.
Ketiganya mendapatkan pendidikan tinggi di Melbourne, salah satu kota pendidikan internasional utama Australia, tetapi membawa perspektif dan pemahaman Indonesia.
Kini mereka mendapat kesempatan untuk menggabungkan keduanya.
Kesempatan Langka di Tengah Persaingan Kerja Generasi Muda
Momentum perekrutan ini juga memiliki dimensi sosial yang lebih luas.
Memasuki dunia kerja bukan perkara sederhana bagi banyak anak muda Indonesia. Gelar universitas, bahkan pendidikan internasional, tidak otomatis menjamin seseorang memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan, aspirasi, atau bidang yang dipelajarinya.
Pada saat yang sama, revolusi AI berpotensi mengubah struktur pasar tenaga kerja itu sendiri.
Sebagian pekerjaan akan berubah. Sebagian tugas akan semakin terotomatisasi. Keterampilan baru akan menjadi semakin berharga, sementara pekerjaan dan profesi baru yang belum dikenal satu dekade lalu akan terus bermunculan.
Bagi Wempy, jawabannya bukan melindungi generasi muda dari perubahan teknologi.
Jawabannya adalah menempatkan mereka sedekat mungkin dengan perubahan tersebut.
“Kalau AI akan mengubah masa depan pekerjaan, saya ingin anak-anak muda Indonesia berada di depan perubahan itu, bukan menunggu perubahan itu datang kepada mereka,” katanya.
Karena itulah Bernard, Cherish, dan Darryl tidak hanya direkrut untuk “menggunakan AI”.
Mereka diberikan kesempatan untuk membangun karier mereka di dalam revolusi AI sejak awal, mencari peluang, melakukan eksperimen, menguji model bisnis, mengembangkan produk dan, jika berhasil, ikut membangun perusahaan berbasis AI.
Bukan Sekadar Mencari Pekerjaan, Tetapi Menciptakan Industri
Wempy melihat persoalan ketenagakerjaan generasi muda dari sudut yang berbeda.
Jika jutaan anak muda bersaing memperebutkan jumlah pekerjaan yang terbatas, salah satu solusi jangka panjang bukan sekadar menciptakan lebih banyak pencari kerja yang berkualitas.
Indonesia juga membutuhkan lebih banyak pencipta pekerjaan.
AI berpotensi menjadi salah satu alat terbesar untuk melakukan hal tersebut.
Ketika perusahaan teknologi global berlomba menginvestasikan modal dalam jumlah sangat besar untuk mengembangkan model AI, chip, pusat data, dan infrastruktur komputasi, Wempy melihat peluang berbeda bagi Indonesia.
Indonesia tidak harus mengalahkan Silicon Valley dalam menciptakan model AI terbesar.
Indonesia bisa menjadi salah satu pemenang dalam menerapkan AI.
“Tidak semua perusahaan harus menjadi Google untuk mendapatkan manfaat dari internet,” ujar Wempy.
“Begitu juga dengan AI. Kita tidak harus menjadi OpenAI atau Anthropic. Kita harus bertanya: apa yang bisa kita bangun dengan teknologi mereka? Masalah apa di Indonesia yang sekarang bisa kita selesaikan? Dan apakah dari solusi tersebut kita bisa membangun bisnis bernilai miliaran bahkan triliunan rupiah?”
Tiga Talenta Indonesia, Tiga Pendidikan Melbourne
Ketiga Artificial Intelligence Specialist tersebut membawa disiplin dan perspektif yang berbeda.
Kesamaan mereka adalah pengalaman pendidikan internasional di Melbourne dan keterikatan dengan Indonesia.
Bernard Choa: RMIT University Melbourne, Teknologi dan Engineering
Bernard Choa, lulusan RMIT University di Melbourne dan BINUS International, membawa latar belakang kuat dalam software engineering, cloud computing, cybersecurity, automation, dan penerapan Artificial Intelligence.
Ia memiliki pengalaman dalam pengembangan perangkat lunak perusahaan, chatbot berbasis AI, infrastruktur cloud, serta eksplorasi computer vision, virtual reality, dan generative AI.
Pendidikan teknologi yang ditempuhnya di Melbourne kini akan diuji bukan hanya melalui teori atau tugas akademik, tetapi melalui pertanyaan komersial:
Bisakah teknologi tersebut menjadi produk yang digunakan dan dibayar pelanggan?
Bernard akan membantu menjembatani jarak antara sebuah ide AI dengan teknologi yang benar-benar dapat dibangun, diimplementasikan, dan dikembangkan dalam skala besar.
Cherish Valerie Sukmana: Monash University Melbourne, Manusia dan Komunikasi
Cherish Valerie Sukmana menempuh pendidikan di Monash University di Melbourne, membawa perspektif berbeda ke dalam tim.
Keahliannya mencakup komunikasi, media digital, strategi konten, multimedia, manajemen proyek, dan pengembangan audiens.
Ia juga pernah memperoleh Principal Award dari Sampoerna Academy serta mengikuti pengembangan di bidang public speaking dan leadership.
Keahlian tersebut menjadi semakin relevan pada era AI.
Sebab teknologi tidak menciptakan nilai hanya karena teknologi tersebut canggih.
Manusia harus memahami, mempercayai, menginginkan, dan menggunakannya.
Cherish membawa pertanyaan yang terkadang terlupakan oleh orang teknologi:
Apakah manusia benar-benar membutuhkan ini?
Darryl Hilmy: RMIT University Melbourne, Computer Science dan Information Technology
Darryl Hilmy juga menempuh pendidikan tinggi di Melbourne melalui RMIT University, dalam program double degree Computer Science dan Information Technology bersama BINUS University.
Ia memiliki dasar dalam software development, information systems, dan teknologi digital, serta pengalaman di sektor jaminan sosial pemerintah Indonesia dan layanan keuangan.
Darryl juga membawa dimensi lain yang semakin penting pada era AI: komunikasi dan pemikiran kritis.
Ia pernah menjadi juara debat dua kali, mengajar, menyelesaikan dua novel, dan meraih skor IELTS tertinggi yang dapat dicapai.
Kombinasi teknologi, analisis, bahasa, kreativitas, dan argumentasi tersebut menjadi modal untuk menjembatani sesuatu yang sangat kompleks—mesin dan manusia.
Dari “Brain Drain” Menuju “Brain Gain”
Ada gagasan yang lebih besar di balik ketiga perekrutan tersebut.
Selama bertahun-tahun, negara berkembang menghadapi kekhawatiran mengenai brain drain: talenta terbaik mendapatkan pendidikan internasional, kemudian kemampuan mereka lebih banyak dimanfaatkan oleh ekonomi negara lain.
Namun globalisasi tenaga kerja menciptakan kemungkinan baru.
Seseorang dapat belajar di Melbourne, memahami standar profesional Australia, membangun jaringan internasional, tetapi menggunakan seluruh pengalaman tersebut untuk menciptakan nilai bagi Indonesia dan kawasan Asia.
Dengan kata lain, pendidikan luar negeri tidak harus menjadi jalan keluar dari Indonesia.
Ia juga dapat menjadi jalan kembali menuju Indonesia dengan kemampuan yang lebih besar.
“Bagi saya, pendidikan internasional mereka bukan sekadar nama universitas di CV,” kata Wempy.
“Mereka telah melihat dunia dari perspektif berbeda. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana pengalaman itu diterjemahkan menjadi sesuatu yang berguna bagi Indonesia.”
AI Sebagai “Demam Emas” Generasi Baru
Wempy menggambarkan ledakan AI sebagai sebuah demam emas ekonomi baru.
Namun dalam setiap demam emas, tidak semua kekayaan diperoleh oleh orang yang menemukan emas.
Ada yang membangun alat. Ada yang menyediakan transportasi. Ada yang menciptakan perdagangan. Ada yang membangun kota dan industri di sekelilingnya.
AI berpotensi menciptakan dinamika serupa.
Di atas model-model AI yang dibangun perusahaan teknologi global akan muncul ribuan aplikasi, perusahaan, profesi, dan model bisnis baru.
Peluangnya dapat muncul di pendidikan, kesehatan, properti, keuangan, media, pemasaran, perdagangan, pariwisata, layanan profesional, hingga jutaan UMKM.
Misi tim baru ini adalah menemukannya.
Bukan sekadar bertanya:
“Apa yang bisa dilakukan AI?”
Tetapi:
“Masalah apa yang sekarang dapat kita selesaikan karena AI?”
Indonesia Tidak Harus Menciptakan AI untuk Menjadi Pemenang AI
Indonesia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak negara lain dalam skala yang sama: populasi besar, generasi muda yang sangat digital, jutaan UMKM, dan pasar dengan begitu banyak proses yang masih dapat dibuat lebih cepat, murah, dan efisien.
Banyak proses bisnis masih manual.
Banyak pengetahuan profesional masih mahal.
Banyak layanan belum menjangkau seluruh masyarakat.
Banyak perusahaan masih menghabiskan ribuan jam manusia untuk pekerjaan yang berulang.
AI dapat mengubah persamaan ekonominya.
Jika sebuah pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan sepuluh jam dapat diselesaikan dalam satu jam, biaya bisnis berubah.
Jika layanan yang sebelumnya membutuhkan seorang ahli dapat dibantu AI, akses berubah.
Jika seorang entrepreneur dengan lima orang dapat menghasilkan output yang dahulu membutuhkan 50 orang, struktur perusahaan berubah.
Dan ketika struktur biaya berubah, industri baru dapat lahir.
Kesempatan Sekali Seumur Hidup
Bagi Bernard, Cherish, dan Darryl, perekrutan ini datang pada persimpangan yang jarang terjadi dalam sejarah karier seseorang.
Mereka adalah generasi muda Indonesia yang telah menginvestasikan bertahun-tahun dalam pendidikan internasional di Melbourne.
Mereka memasuki dunia profesional ketika persaingan mendapatkan pekerjaan berkualitas semakin ketat.
Dan pada saat yang sama, mereka menyaksikan munculnya teknologi yang berpotensi mengubah hampir setiap industri tempat mereka akan bekerja selama beberapa dekade mendatang.
Wempy ingin memberikan mereka sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pekerjaan.
Kesempatan untuk ikut membangun.
“Mungkin 20 tahun dari sekarang kita akan melihat periode ini seperti kita sekarang melihat kelahiran internet,” ujar Wempy.
“Kalau itu benar, maka bagi seorang anak muda yang baru memulai karier, kesempatan berada di dalam AI sekarang adalah kesempatan yang mungkin hanya muncul sekali dalam satu generasi.”
Dari Melbourne, Kembali untuk Indonesia
Pada akhirnya, kisah Bernard Choa, Cherish Valerie Sukmana, dan Darryl Hilmy bukan hanya cerita tentang tiga orang yang mendapatkan pekerjaan baru.
Ini adalah cerita tentang apa yang dapat terjadi ketika pendidikan global bertemu dengan kesempatan lokal.
Tentang tiga anak muda Indonesia yang menempuh pendidikan tinggi di Melbourne dan kini diberi ruang untuk membuktikan bahwa pengalaman internasional mereka dapat diterjemahkan menjadi inovasi, perusahaan, dan nilai ekonomi.
Dan tentang seorang entrepreneur yang memilih untuk mempertaruhkan sebagian masa depan bisnisnya pada generasi berikutnya.
Perusahaan teknologi dunia akan terus berlomba membuat Artificial Intelligence semakin pintar.
Tetapi perlombaan yang jauh lebih besar baru saja dimulai:
Siapa yang mampu mengubah kecerdasan tersebut menjadi nilai nyata?
Untuk Bernard, Cherish, dan Darryl, perjalanan itu dimulai dari Indonesia setelah pendidikan mereka di Melbourne.
Dari ruang kuliah menuju dunia bisnis.
Dari mempelajari teknologi menuju menciptakan sesuatu dengannya.
Dari mencari peluang kerja menuju, suatu hari nanti, mungkin menciptakan pekerjaan bagi orang lain.
