Sumenep,korantimes.com-Imam Ghazali, S.Kep., Ns., M.Kep., alumni Nurur Rahmah sekaligus dosen Fakultas Ilmu Kesehatan UNT Sampang, turut menanggapi ramainya pemberitaan terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) di LPAI Nurur Rahmah yang menyebut siswa menjerit dan menangis serta menyoroti menu yang diduga tidak sesuai standar (25/08/2026).

Menurutnya, perlu dilakukan tabayun dan melihat persoalan tersebut secara objektif, khususnya ketika menyangkut klaim bahwa menu yang diberikan tidak memenuhi standar gizi.

Ia mempertanyakan standar yang digunakan dalam menyebut menu tersebut tidak bergizi. “Tidak sesuai standar gizi yang mana? Ukuran menu bergizi seperti apa?” ujarnya.

Menurut Imam, jika dilihat dari komponen makanannya, menu yang terdiri dari roti, anggur, susu, kacang hijau, dan telur puyuh tetap memiliki kandungan zat gizi yang dibutuhkan tubuh.

Roti merupakan sumber karbohidrat, anggur mengandung serat dan berbagai zat gizi mikro, susu merupakan sumber kalsium dan protein, kacang hijau menyediakan protein nabati, sedangkan telur puyuh merupakan sumber protein hewani.

“Lantas apa yang tidak bergizi? Apakah karena tidak ada nasi kemudian menu tersebut dianggap tidak bergizi?” kata Imam.

Ia menilai, penilaian terhadap menu seharusnya tidak hanya didasarkan pada ada atau tidaknya nasi, tetapi perlu melihat komposisi makanan, keragaman sumber zat gizi, porsi, kebutuhan penerima manfaat, serta kecukupan energi dan zat gizi secara keseluruhan.

READ  Demo Depan Kantor DPRD, PMII Pamekasan Minta Evaluasi Program MBG dan KDMP

Karena itu, menurutnya, diperlukan pembahasan yang lebih proporsional dan berbasis disiplin ilmu gizi sebelum menyimpulkan bahwa suatu menu MBG tidak memenuhi standar gizi.

Imam juga mengajak pihak-pihak terkait, termasuk penulis berita, untuk melakukan tabayun dan berdiskusi mengenai konsep gizi seimbang serta penyediaan menu sehat dalam program MBG.

Ia menyarankan agar arah pemberitaan lebih difokuskan pada aspek penyesuaian anggaran, kualitas penyelenggaraan, dan kesesuaian porsi dengan kebutuhan penerima manfaat, bukan semata-mata pada ada atau tidaknya nasi dalam menu. “Mari kita diskusikan bersama berdasarkan ilmu gizi, sehingga masyarakat mendapatkan informasi yang utuh dan tidak menimbulkan persepsi bahwa menu tersebut tidak bergizi tanpa dasar yang jelas,” pungkasnya.