OPINI-Pemerintahan Prabowo Subianto seharusnya tidak perlu reaktif terhadap kritik keras Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto. Sebaliknya, Tiyo harus diperlakukan sebagai seorang pemberi “Kado MBG” yang sesungguhnya bagi rezim ini—sebuah “suplemen” yang menyelamatkan sistem dari kegagalan organ kekuasaan. Ini adalah sebuah pemberian yang benar-benar tulus dari rakyat untuk negara.
Dalam logika gizi, kualitas asupan tidak hanya ditentukan oleh apa yang masuk ke mulut, tetapi oleh mekanisme tubuh dalam menangkal racun. Jika pemerintah menyerap anggaran tanpa pengawasan ketat, yang terjadi bukanlah pertumbuhan (growth), melainkan Obesitas Anggaran yang hanya memperkaya segelintir parasit politik.
Wajar jika Tiyo berteriak bahwa MBG berpotensi menjadi “Maling Berkedok Gizi”. Ini bukan sekadar satir, melainkan alarm bagi Presiden agar tidak “keracunan” oleh perilaku oknum di bawahnya yang bersembunyi di balik piring rakyat. Tiyo hadir membawa laku dialektik; ia memberikan Masukan Bergizi Gratis (MBG) untuk memastikan kebijakan tidak melenceng menjadi makanan beracun bagi rakyat dan negara. Inilah MBG yang sesungguhnya: Masukan yang benar-benar bergizi dan gratis karena lahir dari keresahan nalar mahasiswa.
Di sisi lain, kehadiran Tiyo sekaligus menjadi kado bagi almamaternya. Ia mewakili wajah UGM yang masih memiliki metabolisme kritis. Setelah sempat “babak belur” lewat berbagai drama ijazah palsu yang merusak sel-sel kepercayaan publik, Tiyo muncul sebagai bukti bahwa fungsi otak intelektual kampus ini masih bekerja normal untuk mengawal bangsa.
Maka, menyambut kritik Tiyo adalah bentuk kesadaran gizi politik yang paling tinggi. Tanpa mekanisme kontrol publik, sebuah program besar hanya akan menjadi kalori kosong yang tampak besar di angka, namun keropos secara kemanfaatan. Ingat, menurut catatan JPPI, sejak diluncurkan hingga awal 2026, terdapat 21.254 anak yang keracunan. Sampai hari ini pun kebijakan tersebut terus memakan korban, anak-anak yang menjadi masa depan bangsa kita. Apakah hal ini pantas kita biarkan?
Tiyo adalah kado, agar pemerintahan ini tidak mati karena “keracunan” oleh maling-maling yang bersembunyi di balik piring rakyat. Tiyo mewakili suara hati kita semua.
Penulis: Alip Purnomo, Direktur Eksekutif IndexPolitica.
Tulisan opini ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak termasuk tanggung jawab redaksi Koran Times.
Rubrik opini di koran Times terbuka untuk umum. Panjang tulisan maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
Harap sertakan riwayat hidup singkat, foto diri, dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Kirimkan tulisan ke email: timeskoran@gmail.com

