Pamekasan,korantimes.com– Sejumlah organisasi mahasiswa berkolaborasi menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, Pada Sabtu (23/5/2026). Kegiatan ini berlangsung di tengah gelombang pembubaran nobar film serupa di berbagai kampus lain.

Kegiatan tersebut berlangsung di Jalan Mak Gang I Taman Laden, Kecamatan Pamekasan.

Agenda yang digelar secara gratis dan terbuka untuk umum itu merupakan hasil kolaborasi DPP Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Banyuanyar (FKMSB), BEM FKIP UIM, Bengkel Sastra UIN Madura, dan HMPS KPI UIN Madura. Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 60 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan masyarakat umum.

Dalam kegiatan itu, film turut mengundang Ach. Faisol, S.H., yang memberikan pengantar mengenai isu sosial dan kemanusiaan yang diangkat dalam film Pesta Babi tersebut.

Ketua Penyelenggara, yang juga Ketua DPP FKMSB Nasional, Nurisul Anwar, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan nobar tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga wadah refleksi sosial bagi mahasiswa.

Ia menilai film Pesta Babi menghadirkan gambaran mengenai persoalan yang menyangkut ruang hidup, budaya, dan masa depan masyarakat adat.

‎“Tujuan nobar film Pesta Babi ini bukan hanya sekadar menonton bersama, melainkan ruang refleksi dan edukasi bagi generasi muda agar lebih peka terhadap realitas sosial yang terjadi di tengah masyarakat hari ini,” tegasnya.

Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita kini bisa disaksikan secara gratis oleh seluruh masyarakat Indonesia melalui YouTube. Karya investigatif berdurasi 95 menit ini disutradarai oleh Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale.

READ  Kapolres Terima Kunjungan Ka Lapas Baru

Secara garis besar, film ini menceritakan situasi masyarakat adat Papua saat ini, dengan kolonialisme sebagai benang merah yang merepresentasikan hampir keseluruhan isi cerita.

Film ini mengangkat isu krusial perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan, terutama suku Malind, Yei, Awyu, dan Muyu, dalam mempertahankan tanah leluhur mereka dari ekspansi Proyek Strategis Nasional (PSN) seperti perkebunan sawit, tebu untuk bioetanol, dan kawasan industri pangan skala besar.

Melalui testimoni warga asli Papua, kamera mengungkap dampak deforestasi, militerisasi, dan konflik agraria yang menyertai klaim “ketahanan pangan” dan “transisi energi”. Dokumenter ini menyoroti isu konflik lahan serta dampak PSN terhadap masyarakat adat di Papua Selatan, khususnya di wilayah Kabupaten Merauke, Boven Digoel, dan Mappi.

Judul Pesta Babi merujuk pada tradisi adat penting di Papua. Pesta babi bukan sekadar ritual makan bersama, melainkan ungkapan syukur kepada alam, sarana mendamaikan konflik antar suku, dan simbol persatuan komunitas. Dalam film, tradisi ini menjadi sebuah metafora kuat. Di satu sisi menunjukkan kekayaan budaya yang terancam, di sisi lain mengkritik “pesta” rakus para pemegang kekuasaan dan korporasi yang membagi tanah adat tanpa persetujuan pemiliknya.