OPINI – Suksesi bisnis keluarga sering dianggap sebagai persoalan klasik: pendiri yang tidak mau mundur. Narasi ini sudah lama menjadi asumsi umum, seolah-olah kegagalan regenerasi sepenuhnya berada di tangan generasi lama. Namun, apakah benar demikian?

Data global justru menunjukkan bahwa masalahnya jauh lebih kompleks. Laporan Global Entrepreneurship Monitor (2022) mencatat bahwa Indonesia hanya memiliki sekitar 31% entrepreneur yang melanjutkan bisnis keluarga. Angka ini tergolong rendah, mengingat dominasi bisnis keluarga dalam struktur ekonomi nasional.

Di sisi lain, survei PwC Global NextGen mengungkapkan bahwa 57% generasi penerus merasa pemimpin saat ini enggan pensiun, sementara 39% melihat adanya resistensi terhadap perubahan dalam bisnis keluarga. Sekilas, data ini memperkuat narasi bahwa pendiri adalah penghambat utama. Namun jika ditelusuri lebih dalam, persoalannya tidak sesederhana itu.

Justru, diperlukan pemahaman yang lebih komprehensif untuk melihat faktor apa yang sebenarnya memengaruhi keberhasilan suksesi dalam bisnis keluarga. Dalam konteks tersebut, penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya mencoba mengkaji fenomena ini secara lebih terstruktur melalui pendekatan kuantitatif.

Model penelitian yang digunakan melibatkan tiga variabel utama, yaitu Perceived Business Performance (X1) sebagai faktor yang membentuk persepsi terhadap kinerja bisnis, Successor Willingness to Step In (M) sebagai variabel mediasi yang merepresentasikan kesiapan penerus, serta Incumbent’s Willingness to Step Aside (Y) sebagai variabel yang mencerminkan kesiapan pemimpin lama untuk mundur.

Data dikumpulkan dari 182 responden yang merupakan bagian dari bisnis keluarga, dengan karakteristik mayoritas laki-laki (60,44%) dan didominasi oleh generasi kedua (73,08%). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada fase transisi awal antar generasi, di mana proses suksesi bukan hanya penting, tetapi juga menjadi penentu keberlanjutan bisnis di masa depan.

Ketika Bisnis Sudah Siap, Tapi Orangnya Belum

Secara logika, bisnis yang memiliki kinerja baik—stabil, menguntungkan, dan berkembang—seharusnya lebih mudah diwariskan. Namun dalam praktiknya, justru banyak bisnis yang sukses mengalami stagnasi kepemimpinan.

Penelitian terbaru dalam konteks bisnis keluarga di Indonesia menunjukkan bahwa kinerja bisnis yang baik memang mendorong minat generasi penerus untuk terlibat. Dalam variabel Perceived Business Performance, ketika penerus melihat bisnis memiliki masa depan yang jelas, mereka menjadi lebih percaya diri untuk masuk dan mengambil peran.

READ  Penerapan Entrepreneurship di Universitas Ciputra – International Business Management

Namun, ini belum cukup. Masalah utamanya bukan pada kondisi bisnis, melainkan pada kesiapan individu yang akan melanjutkannya.

Kunci yang Selama Ini Terlewat: Kesiapan Penerus

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor paling menentukan dalam proses suksesi adalah Successor Willingness to Step In. Dengan kata lain, keberhasilan suksesi sangat bergantung pada sejauh mana penerus siap—bukan hanya secara kemampuan, tetapi juga secara mental dan komitmen.

Menariknya, keputusan pendiri untuk mundur sangat dipengaruhi oleh faktor ini. Variabel Incumbent’s Willingness to Step Aside tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan sebagai respons terhadap kesiapan penerus.

Artinya, selama penerus belum menunjukkan kesiapan yang kuat, pendiri cenderung akan tetap bertahan, bahkan ketika bisnis sudah berada dalam kondisi ideal untuk diwariskan.

Mengapa Banyak Suksesi Gagal Diam-Diam
Salah satu masalah terbesar dalam bisnis keluarga adalah kegagalan yang tidak terlihat. Tidak ada konflik terbuka, tidak ada krisis, tetapi suksesi tetap tidak terjadi.

Banyak penerus yang secara formal sudah masuk ke dalam bisnis, tetapi belum memiliki rasa kepemilikan atau kepercayaan diri untuk memimpin. Di sisi lain, pendiri tidak melihat adanya urgensi untuk mundur karena belum ada sosok yang benar-benar siap menggantikan.
Kondisi ini menciptakan stagnasi yang sering kali baru disadari ketika sudah terlambat, misalnya saat terjadi krisis atau perubahan mendadak dalam kepemimpinan.

Menggeser Fokus: Dari Bisnis ke Manusia

Temuan ini memberikan pesan penting bagi pelaku bisnis keluarga. Selama ini, fokus utama sering kali berada pada kinerja bisnis: bagaimana meningkatkan profit, memperluas pasar, dan menjaga stabilitas. Namun, keberlanjutan bisnis tidak hanya ditentukan oleh angka, tetapi oleh manusia yang menjalankannya.

Membangun persepsi positif terhadap bisnis penting, tetapi tidak cukup. Yang lebih krusial adalah membangun kesiapan penerus melalui proses yang terstruktur: mentoring, pelibatan dalam pengambilan keputusan, dan pemberian tanggung jawab secara bertahap.

Di sisi lain, pendiri juga perlu membangun kepercayaan. Suksesi bukan soal kehilangan kendali, tetapi tentang memastikan bisnis tetap berjalan di tangan yang tepat.

Ketika Kinerja Bisnis Mendorong Pendiri untuk Melepas

READ  Pentingnya Pembelajaran Berbasis Digitalisasi bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus

Di luar peran penerus, penelitian ini juga menemukan bahwa Perceived Business Performance memiliki pengaruh langsung terhadap Incumbent’s Willingness to Step Aside. Ketika bisnis dipersepsikan berjalan dengan baik—stabil, menguntungkan, dan memiliki arah pertumbuhan yang jelas—pendiri cenderung lebih terbuka untuk melepaskan kendali. Ada rasa aman yang muncul ketika bisnis berada dalam kondisi “baik-baik saja”, seolah memberi sinyal bahwa organisasi tetap dapat berjalan meskipun tanpa kehadiran mereka secara langsung.

Dalam konteks ini, performa bisnis bukan hanya menjadi indikator keberhasilan, tetapi juga menjadi faktor psikologis yang secara langsung mendorong kesiapan pemimpin lama untuk melakukan transisi kepemimpinan.

Kesimpulan: Suksesi Bukan Soal Siapa yang Mundur, Tapi Siapa yang Siap
Pada akhirnya, suksesi bisnis keluarga tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan sederhana tentang kapan pendiri harus mundur. Penelitian ini menunjukkan bahwa masalah utamanya bukan terletak pada keengganan pendiri, melainkan pada kesiapan penerus yang belum terbentuk secara optimal. Selama Successor Willingness to Step In belum kuat, maka Incumbent’s Willingness to Step Aside akan terus tertahan—bahkan ketika bisnis berada dalam kondisi terbaiknya.

Di sisi lain, Perceived Business Performance memang berperan penting, baik dalam mendorong kesiapan penerus maupun secara langsung meningkatkan keyakinan pendiri untuk melepas. Namun, performa bisnis saja tidak cukup untuk memastikan terjadinya suksesi.

Tanpa kesiapan manusia di dalamnya, keberhasilan bisnis justru bisa menjadi alasan untuk menunda perubahan.
Hal ini menegaskan satu hal penting: suksesi bukanlah peristiwa, melainkan proses yang harus dibangun. Bukan hanya tentang menyerahkan bisnis, tetapi tentang menyiapkan generasi berikutnya untuk benar-benar siap menerima dan menjalankannya.

Karena dalam bisnis keluarga, keberlanjutan tidak ditentukan oleh seberapa kuat pendiri bertahan, tetapi oleh seberapa siap penerus mengambil alih.

Penulis: Nikolas Wongso (Mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya) & Metta Padmalia (Dosen Universitas Ciputra Surabaya).

Tulisan opini ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak termasuk tanggung jawab redaksi Koran Times.

Rubrik opini di koran Times terbuka untuk umum. Panjang tulisan maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.

Harap sertakan riwayat hidup singkat, foto diri, dan nomor telepon yang bisa dihubungi.