OPINI-Marhaenisme bukan sekadar warisan sejarah, bukan pula hanya slogan yang diucapkan dalam forum-forum kaderisasi. Marhaenisme adalah napas perjuangan yang harus terus hidup dalam setiap pikiran, sikap, dan tindakan kader. Sebagai ideologi yang digagas oleh Bung Karno dan menjadi dasar perjuangan GMNI, Marhaenisme mengajarkan keberpihakan kepada kaum Marhaen—rakyat kecil yang hidup dari hasil jerih payahnya sendiri dan berhak memperoleh keadilan sosial. Prinsip ini menjadi fondasi perjuangan GMNI sejak berdiri pada tahun 1954 sebagai organisasi kader yang berlandaskan Marhaenisme.

Di era perjuangan baru, tantangan yang kita hadapi tidak lagi berbentuk penjajahan fisik, tetapi hadir dalam wajah ketimpangan ekonomi, ketidakadilan sosial, degradasi moral, serta berbagai bentuk penindasan yang menggerus nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, menjadi kader GMNI berarti memiliki tanggung jawab untuk terus berpikir kritis, bergerak bersama rakyat, dan menghadirkan solusi nyata atas setiap persoalan bangsa.

Memanggil Marhaenisme berarti membangkitkan kembali kesadaran ideologis bahwa perjuangan belum selesai. Kita dipanggil untuk kembali berdiri bersama rakyat, mendengar suara mereka, memahami penderitaan mereka, dan memperjuangkan cita-cita Indonesia yang berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, serta berkepribadian dalam kebudayaan.

Memahami Marhaenisme berarti menghayati nilai-nilai Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, dan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai landasan berpikir dan bertindak. Marhaenisme bukan hanya teori di ruang diskusi, tetapi pedoman hidup yang menuntun kader untuk menjadi intelektual yang berpihak kepada kepentingan rakyat.

READ  Bencana Sumatera dan Ketangguhan Kepemimpinan Indonesia di Era Risiko

Mengamalkan Marhaenisme berarti membuktikan keberpihakan itu melalui tindakan nyata. Kader GMNI harus hadir di tengah masyarakat, mengabdikan ilmu pengetahuan, menjaga persatuan bangsa, melawan segala bentuk ketidakadilan, dan menjadi pelopor perubahan yang berorientasi pada kepentingan rakyat.

Sebagai *Bung Fauzan* kader aktif *GMNI Cabang Pamekasan*, saya meyakini bahwa Marhaenisme akan tetap relevan sepanjang masih ada ketimpangan, kemiskinan, dan penindasan. Tugas kita bukan sekadar menjaga api perjuangan, tetapi memastikan api itu terus menyala dan menerangi jalan menuju Indonesia yang adil, makmur, dan bermartabat.

Mari kita buktikan bahwa kader GMNI bukan hanya pandai berbicara tentang ideologi, tetapi juga mampu menghadirkan ideologi itu dalam pengabdian nyata kepada rakyat. Sebab sejatinya, *”Pejuang Pemikir Pemikir Pejuang”* bukan hanya semboyan, melainkan karakter yang harus hidup dalam setiap kader GMNI.

Penulis, Bung Fauzan,Kader Aktif GMNI Cabang Pamekasan

Tulisan opini ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak termasuk tanggung jawab redaksi Koran Times.

Rubrik opini di koran Times terbuka untuk umum. Panjang tulisan maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.

Harap sertakan riwayat hidup singkat, foto diri, dan nomor telepon yang bisa dihubungi.