PAMEKASAN,korantimes.com– Anggota Komisi VIII DPR RI, Fraksi PDI Perjuangan Dapil Jatim XI Madura, Hj. Ansari mendukung ketahanan pangan nasional.

Penyampaian tersebut disampaikan Hj. Ansari usai menyambangi petani di Kabupaten Pamekasan. Ia menilai petani adalah pahlawan pangan nasional dan berkontribusi besar terhadap ketahanan pangan Indonesia.

Tetapi, kata Legislator perempuan asal Madura ini, hingga saat ini kesejahteraan mayoritas petani di Indonesia masih jauh dari yang diharapkan.

“Ini sebuah ironi, petani adalah pahlawan pangan nasional, mestinya kesejahteraan terpenuhi, tetapi faktanya para petani kita masih jauh dari kata sejahtera,” urainya. Rabu (24/9/2025).

Momentum Hari Tani Nasional tahun 2025, kata anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan ini, harus menjadi bahan evaluasi bersama tentang bagaimana mendorong kesejahteraan petani, setiap persoalan yang dihadapi oleh petani diberikan solusi.

“Momentum hari tani nasional tahun ini harus menjadi evaluasi, apakah karena faktor SDM, faktor sistem pertanian atau justru memang ada hal lain yang membuat petani kita kesejahteraannya tidak terpenuhi. Mayoritas petani kita masih berada di bawah garis kesejahteraan yang diharapkan,” terangnya.

Bung Karno, kata Legislator PDI Perjuangan ini, gelisah melihat realitas taraf hidup petani yang tidak meningkat walaupun memiliki aset pertanian, padahal Indonesia adalah negara agraris yang kaya dengan hasil buminya. Atas dasar itulah Bung Karno sang proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, Presiden Pertama RI mencetuskan lahirnya Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) nomor 1960 pada tahun 1963, untuk mengapresiasi perjuangan petani.

Hj. Ansari yang dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga buruh tani ini berharap agar kesejahteraan petani, buruh tani yang merupakan pahlawan pangan nasional terus meningkat.

READ  Hut Bhayangkara ke-79, Ketum Mahasantri; Semoga Polri Makin presisi

“Saya berharap agar pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kesulitan yang dihadapi oleh petani, sehingga kesejahteraannya meningkat, karena petanilah ketahanan pangan yang saat ini digalakkan oleh pemerintah akan terwujud, tanpa petani maka program ketahanan pangan nasional tidak akan terwujud,” pungkasnya.

Karena itu, pihaknya komitmen menyuarakan setiap persoalan yang dihadapi para petani kepada pemerintah sebagai bentuk amanah dan tanggungjawab sebagai wakil rakyat.

“Seperti yang disampaikan Bung Karno, bahwa para petani, buruh, dan masyarakat miskin memiliki alat produksi sendiri, namun kesejahteraannya tidak meningkat akibat sistem yang tidak berpihak,” jelasnya.

“Dalam rangka menyambut Hari Tani Nasional, kami berharap agar pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kesulitan yang dihadapi oleh petani di Madura, sehingga kesejahteraan petani terus meningkat,” tegasnya.

Berdasar data pertanian, potensi luas lahan pertanian di Madura, sekitar 46 persen dari total luas wilayah Madura atau sekitar 209.769 hektare, berpotensi untuk budi daya padi, termasuk potensi lahan untuk tanaman jagung juga sangat besar, mencapai 300 ribu hektare.

Selain itu, Madura juga memiliki potensi besar untuk pengembangan komoditas pertanian tertentu, seperti jagung, padi, tembakau, tebu, garam, rempah-rempah, serta berbagai jenis tanaman pangan lainnya. Kendala yang seringkali menjadi tantangan meliputi kekurangan air, kualitas lahan, alih fungsi tanah, keterbatasan teknologi, dominasi pasar serta deagrarianisasi.

Untuk total luas lahan pertanian di Pamekasan, mencapai sekitar 64.919 hektare atau sekitar 82 persen dari luas wilayah kabupaten. Lahan tersebut terbagi menjadi beberapa jenis dan digunakan untuk berbagai komoditas pertanian, yakni lahan sawah dan lahan kering atau lahan non sawah.

READ  Gelar Halal Bihalal dan Cerita Harkamtibmas, Kapolres Pamekasan Ajak Kepala Desa dan Lurah Jaga Kamtibmas

Sementara komoditas unggulan di Pamekasan, di antaranya tembakau yang menjadi komoditas utama dengan luas lahan sekitar 22.917 hektare yang tersebar 13 Kecamatan. Termasuk padi yang tetap menjadi salah satu komoditas penting sekalipun memiliki keterbatasan irigasi, jagung menjadi komoditas pertanian unggulan yang berpotensi berkembang, termasuk garam, buah naga dan porang dan komoditas lainnya.

Kabupeten Sumenep memiliki lahan pertanian mencapai luas sekitar 131.308 hektar lahan dengan dominasi lahan kering yang berpotensi menjadi salah satu sektor penopang ekonomi utama, seperti padi, jagung, kacang hijau, tembakau, garam hingga hortikultura lahan kering.

Termasuk lahan pertanian di kabupaten Sampang yang cukup signifikan dengan sekitar 92 persen total wilayah merupakan lahan pertanian. Bahkan pada 2025, Pemkab Sampang juga berupaya memanfaatkan lahan tidur, yaitu lahan potensial yang tidak digarap, seluas lebih dari 80 hektare untuk ditanami jagung dan padi.

Sedangkan kabupaten Bangkalan, total luas lahan sawah pada 2024 mencapai sekitar 29.540 hektare. Sawah tadah hujan sebagian besar lahan sawah (21.491 hektare) merupakan sawah tadah hujan, yang produksinya sangat bergantung pada curah hujan. Sawah irigasi seluas 8.049 hektare yang sumber pengairannya berasal dari irigasi teknis maupun pompanisasi, sedangkan lahan tegalan mencapai 62.618 hektare dan digunakan untuk menanam komoditas yang tidak memerlukan banyak air.