Jakarta,korantimes.com-EMPAT warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi anak buah kapal (ABK) tanker LPG MT Gas Aura selamat dari serangan drone di perairan Laut Hitam, sekitar Kavkaz, Rusia, pada 15 Juli 2026.

Keempat WNI tersebut tidak mengalami luka dalam insiden yang menyebabkan kapal mengalami kerusakan berat.

KBRI Ankara memastikan telah memberikan pendampingan dan pelindungan kepada keempat ABK sejak menerima laporan mengenai serangan tersebut. “Keempat ABK dipastikan selamat dan tidak mengalami luka dalam insiden tersebut,” demikian keterangan KBRI Ankara, melansir dari media indonesia. Sabtu 22 Agustus 2026.

KBRI Ankara menerima laporan melalui Hotline Pelindungan WNI pada 15 Juli 2026. Setelah itu, perwakilan Indonesia melakukan koordinasi dengan perusahaan penyalur awak kapal, pemilik kapal, keluarga ABK, Kementerian Luar Negeri RI, serta otoritas terkait di Türkiye.

Kerusakan berat pada Gas Aura menyebabkan paspor, buku pelaut, dan sejumlah dokumen penting milik keempat WNI terbakar atau hilang. Kondisi tersebut sempat menghambat proses pendaratan dan pemulangan para ABK.

Untuk mengatasi persoalan dokumen, KBRI Ankara memfasilitasi penerbitan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP). Perwakilan Indonesia juga berkomunikasi dengan Kementerian Luar Negeri Republik Turki untuk memperoleh fasilitasi keimigrasian serta mengirimkan dokumen perjalanan ke Trabzon.

“Proses pemulangan para ABK ke Indonesia terus kami koordinasikan agar dapat berjalan dengan aman, lancar, dan secepatnya,” kata KBRI Ankara.

READ  Kronologi Kericuhan Tambang di Morowali, Kantor PT RCP Dibakar, Aktivis dan Jurnalis Ditangkap

Pada 21 Juli 2026, keempat ABK berhasil turun dari kapal dan berada di Trabzon, Turki, untuk mengurus proses pemulangan ke Indonesia. KBRI Ankara menyatakan terus memantau perkembangan kasus tersebut.

Gas Aura merupakan kapal pengangkut LPG berbendera Panama. Setelah serangan, para awak dievakuasi ke kapal LPG Gas Nero. Otoritas maritim Turki melaporkan dua awak asal Filipina yang terluka kemudian dipindahkan dari Gas Nero ke helikopter Penjaga Pantai Turki di lepas pantai Sinop pada 16 Juli.

Gas Nero juga kemudian diserang drone saat berlayar di Laut Hitam. Serangan tersebut memicu kebakaran pada salah satu tangki bagian depan kapal. Otoritas Turki mengerahkan kapal tunda pemadam kebakaran untuk menangani kebakaran dan selanjutnya mengarahkan Gas Nero ke Trabzon untuk menjalani perbaikan.

Serangan terhadap kedua kapal tersebut menambah risiko bagi pelayaran komersial di Laut Hitam, kawasan yang terdampak konflik Rusia-Ukraina. Kapal sipil dan awak dengan berbagai kewarganegaraan masih beroperasi di jalur pelayaran tersebut meski menghadapi ancaman keamanan.

PELAKU SERANGAN

Dalam sejumlah laporan mengenai insiden Gas Aura muncul klaim bahwa serangan dilakukan oleh militer Ukraina. Namun, informasi yang tersedia belum memberikan konfirmasi independen mengenai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Karena itu, penetapan pihak yang bertanggung jawab perlu menunggu penyelidikan dan bukti yang dapat diverifikasi. Pemerintah Indonesia juga perlu memperoleh informasi resmi mengenai kronologi kejadian untuk memastikan langkah pelindungan terhadap WNI.

READ  Happy Pet Indonesia Ramaikan IIPE 2024: Chef Juna dan AK9 Trainer Akan Berikan Edukasi tentang Pentingnya Variasi Protein untuk Hewan Kesayangan

Kasus tersebut menunjukkan pentingnya perlindungan terhadap pelaut Indonesia yang bekerja di kapal niaga internasional, terutama yang beroperasi di wilayah berisiko tinggi. Selain memastikan keselamatan awak, penanganan insiden juga mencakup bantuan dokumen perjalanan, akses layanan yang diperlukan, hingga pemulangan ke Indonesia.

KBRI Ankara menyatakan akan terus memberikan pendampingan kepada keempat WNI tersebut dan memastikan proses pemulangan berjalan aman. Peristiwa Gas Aura juga menjadi pengingat bahwa konflik bersenjata dapat berdampak langsung terhadap pekerja sipil yang menjalankan aktivitas ekonomi di jalur pelayaran internasional.