PAMEKASAN,KORAN TIMES– Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui Kementerian Riset dan Teknologi kembali melaksanakan program pengabdian masyarakat sebagai bentuk kontribusi nyata mahasiswa terhadap pembangunan daerah.

Tahun ini, kegiatan difokuskan di Kabupaten Pamekasan, Madura, dengan mengangkat tema “Revitalisasi Sentra Batik Madura dalam Mendorong Kemandirian Ekonomi dan Identitas
Lokal”.

Kabupaten Pamekasan dikenal sebagai salah satu pusat penghasil batik terbesar di Pulau Madura, dengan total 28 sentra batik yang tersebar di berbagai kecamatan.

Kecamatan Proppo bahkan menjadi wilayah dengan jumlah sentra batik terbanyak, termasuk di dalamnya Desa Klampar, Toket, Candi Burung, dan Rang Perang Dajah.

Meski memiliki potensi besar, sebagian desa seperti Toket dan Candi Burung masih menghadapi kendala serius dalam hal
pemasaran dan pengelolaan usaha mandiri.

Melihat permasalahan ini, BEM ITS melalui Kementerian Riset dan Teknologi menghadirkan program pengabdian masyarakat yang menyasar empat fokus utama.

Pertama, pendampingan
manajemen usaha dan digital marketing, di mana para pengrajin diberikan pelatihan
mengenai strategi branding, pengelolaan media sosial, hingga desain kemasan produk.

Kedua, optimalisasi pemasaran daring dengan memanfaatkan platform e-commerce agar batik Madura bisa menembus pasar lebih luas.

Ketiga, penguatan jejaring dan kemitraan
lokal, sehingga pengrajin batik tidak hanya berfokus pada produksi tetapi juga mampu
membangun relasi bisnis yang berkelanjutan.

Keempat, revitalisasi infrastruktur sentra batik, untuk menunjang aktivitas produksi dan promosi agar lebih modern dan efisien.

READ  Langgeng Indah Makmur: Showroom Mobil Murah di Jakarta yang Mengutamakan Kualitas

Kegiatan ini turut melibatkan berbagai pihak, mulai dari mahasiswa ITS, pemerintah setempat, hingga praktisi digital marketing serta pelaku usaha lokal. Dengan dukungan pendanaan dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) ITS.

Kegiatan ini juga menyalurkan bantuan infrastruktur batik kepada kelompok pengrajin di Desa Toket.

Dosen pendamping lapangan KKN-PM ITS, Imam Safawi Ahmad, S.Si., M.Si., menegaskan bahwa program ini memberikan manfaat ganda, baik bagi mahasiswa maupun mitra masyarakat.

“Mahasiswa semakin terasah kepedulian dan kontribusi nyatanya, sementara
mitra masyarakat memperoleh tambahan kapasitas untuk mandiri dengan tetap menjaga identitas lokal di tengah tantangan perubahan pola ekonomi,” jelasnya.

Ia menambahkan, program pengabdian ini memang bukan solusi instan bagi seluruh
permasalahan yang dihadapi pengrajin, tetapi bisa menjadi pemicu lahirnya inovasi dan kemandirian baru.

“Harapannya masyarakat semakin berdaya, mampu meningkatkan taraf ekonomi, sekaligus melestarikan nilai-nilai luhur budaya batik Madura,” imbuhnya.

Sementara Regina Dwi Aulia, Mahasiswa ITS menyatakan melalui kegiatan pengabdian, maka BEM ITS bukan hanya agen perubahan di lingkungan kampus, tetapi juga mitra strategis masyarakat dalam mengembangkan potensi daerah.

Salah satu pengabdiannya, kata Regina Dwi Aulia, melalui kegiatan pengabdian di sentra batik di beberapa desa yang ada di daerah Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan.

“Revitalisasi sentra batik di Desa Toket dan Candi Burung diharapkan mampu menjadi model pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, yang adaptif, mandiri, dan berdaya saing tinggi,” Harap Regina Dwi Aulia.