PAMEKASAN, KORAN TIMES-Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan soroti tingginya angka anak tidak sekolah (ATS) di Kabupaten yang dikenal kota Pendidikan.

Ada 7.812 anak yang putus sekolah. Hal tersebut tertera di Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Mohammad Saedy Romli, Anggota Komisi 4 DPRD Pamekasan menyatakan banyaknya anak putus sekolah ini menjadi masalah serius yang berdampak luas pada individu, keluarga, dan masyarakat.

Padahal, kata Mohammad Saedy Pamekasan dikenal dengan kota Pendidikan. Seharusnya persoalan tersebut terjadi di Pamekasan.

Selanjutnya, ia menyampaikan menangani masalah anak putus sekolah memerlukan pendekatan yang komprehensif dan kerjasama dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, keluarga, masyarakat, dan organisasi non-pemerintah.

Politisi Gelora Pamekasan ini juga menyampaikan berbagai penyebab anak putus sekolah seperti faktor ekonomi, akses, lingkungan sosial, kurangnya dukungan keluarga.

“Penyebab anak putus sekolah ini menjadi perhatian bersama dan dicarikan solusinya sebab, jika dibiarkan akan berdampak serius terhadap perkembangan generasi penerus bangsa,”kata Mohammad Saedy Romli saat menjadi pemateri di acara seminar Kepemimpinan di Kampus UIN Madura. Senin (11/8/2025).

Menurutnya, penting kiranya peran Mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam (MPI) UIN Madura dan masyarakat dalam mendukung pendidikan anak, yang saat ini masih kurang optimal.

“Misalkan ada aspirasi dari Mahasiswa yang mau disampaikan persoalan tingginya angka anak tidak sekolah silahkan bersurat ke DPRD Pamekasan,”ungkapnya.