SURABAYA, Jaringan aktivis demokrasi Indonesia desak aparat penegak hukum segera melakukan penyelidikan, khususnya terhadap kredit fiktif dan kredit macet yang terjadi Bank Jatim. Rabu (17/10/2024).
Ery Mahmudi, sebagai korlap saat unjuk rasa di Bank Jatim Pusat menyampaikan BUMD Provinsi Jatim dikelola oleh orang-orang yang tidak saja memiliki kompetensi, tetapi yang lebih prinsipil dan fundamental adalah orang yang memiliki integritas.
“Kami melihat Bank Jatim hari ini dikelola oleh orang-orang yang memiliki catatan buruk karena berada di lingkaran isu-isu tindak pidana korupsi besar. Sehingga terkesan bahwa, Bank Jatim diduga kuat menjadi sarang koruptor, yang dapat membahayakan uang masyarakat dan negara,”kata Ery Mahmudi, saat unjuk rasa di Bank Jatim Pusat.
Selain itu, pihaknya menduga Bank Jatim menjadi sarang koruptor sangat sederhana, yakni keberadaan orang-orang atau pensiunan yang pernah diduga kuat terlibat kasus mega korupsi. Sebut saja misalnya Edi Masrianto sebagi Direktur keuangan Bank Jatim saat ini, ia diduga kuat berada di dalam arus mega korupsi Impor garam di PT Garam, saat dirinya menjabat sebagai Direktur keuangan di perusahaan itu.
Selain Edi Masrianto, kata Ery Mahmudi ada begitu banyak kasus kredit fiktif di Bank Jatim yang tampak terjadi dengan motif dan pola yang sama, dan telah merugikan keuangan negara hingga ratusan miliar.
“Ada dugaan bahwa, kredit Fiktif Bank Jatim diperantarai (broker) oleh seorang komisaris Bank Jatim. Dugaan broker kredit fiktif ini dilakukan oleh salah satu komisaris Bank Jatim, dsn telah membuat kerugian yang luar biasa di Bank Jatim,” Katanya.
Selain kredit fiktif, kata Ery Mahmudi Bank Jatim terus mengangkut orang-orang tidak kompeten, yang membuat Bank Jatim mengalami kebocoran dana yang dicuri oleh Hacker pada 22 Juni lalu hingga RP. 115 Miliar.
“Zulhelfi Abidin sebagai Direktur IT, yang direkomendasikan oleh eks Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, diduga terpilih sebagai Direksi IT karena kedekatan emosional dengan Eks Gubernur, sehingga dampaknya adalah kebobolan dana Bank Jatim yang diduga dicairkan ke cypto oleh hacker,”urainya.
Menurut Ery Mahmudi, Harusnya Zulhelfi ini sudah ditangkap sebagai bentuk pertanggungjawaban atas posisi yang diembannya. Tapi sampai saat ini, jangankan diadili, kasus kebobolan Bank Jatim oleh hacker ini terus saja berusaha ditutupi oleh pihak Bank Jatim.
Selain itu, pihaknya menyatakan banyak pejabat tinggi Bank Jatim ikut mengkampanyekan salah satu paslon Gubernur Jawa Timur, sehingga Bank Jatim tidak netral dan diarahkan ke dalam kontestasi politik elektoral.
“Ini tidak bisa dibiarkan, Bank Jatim telah terlaku banyak melanggar ketentuan dan peraturan yg berlaku, termasuk rekrutmen direksi yg tidak sesuai kualifikasi persyaratan seperti Edi Masrianto,” Katanya.
Pihaknya, minta APH usut tuntas kasus Edi Masriyanto yang tidak cukup syarat masuk sebagai Direksi Bank Jatim, dan diduga kuat hanya memperkaya diri lewat korupsi.
Serta, pihaknya minta pecat seluruh broker yang direkomendasikan oleh salah satu komisaris bank jatim agar tidak semakin membuat kerusakan di Bank Jatim.
“Pecat dan adili Zulhefli Abidin karena tidak becus mengelola sistem keamanan dana Bank Jatim dan telah merugikan negara. Jangan biarkan Bank Jatim menjadi sarang pensiunan yang memiliki catatan buruk dan dekat dengan lingkaran kasus tindak pidana korupsi,” Katanya.
Diketahui pihak massa aksi saat menyampaikan aspirasi, tidak ada satupun dari pihak Bank Jatim yang menemui.
Pewarta:Lukman
Editor :Hasbullah

